Stadion Bongkar Pasang ala Lego di Piala Dunia Tahun 2022

0
Advertisement

Berita Nusantara News, Dosa –¬†Membangun stadion mungkin ke depannya akan jadi hal yang lebih mudah dan murah. Sebuah konsep baru pembangunan stadion telah lahir yakni stadion bongkar pasang.

Stadion berkonsep bongkar pasang ini kemungkinan akan terwujud di Piala Dunia 2022 di Qatar. Konsep ini lahir dari pemikiran bahwa membangun stadion untuk ajang-ajang khusus, seringkali justru menimbulkan masalah selepas perhelatannya lewat.

Di Afrika Selatan dan Brasil misalnya, selepas Piala Dunia banyak stadion yang terbengkalai. Hal serupa terjadi juga di Yunani, selepas Olimpiade 2004.

Oleh karena itu, Qatar yang akan jadi tuan rumah Piala Dunia 2022 memikirkan konsep yang efisien untuk membangun stadion. Menggandeng firma arsitektur Fenwick Iribarren Architects, mereka telah meluncurkan desain stadion modular untuk Ras Abou Aboud Stadium.

Ras Abu Aboud Stadium adalah satu dari delapan stadion yang sejauh ini direncanakan Qatar untuk jadi lokasi pertandingan. Desain Ras Abu Aboud Stadium adalah yang ketujuh yang telah dikeluarkan Qatar.

Stadion bongkar pasang ini rencananya akan mampu memuat 40 ribu penonton. Berlokasi di tenggara Doha dan berada di tepi pantai, stadion ini bakal berjarak cuma 1,5 km dari Hamad International Airport.

Berlokasi di area pantai dan tak jauh dari pelabuhan, stadion ini menekankan nuansa pesisir dengan penggunaan kontainer-kontainer sebagai bahan utama konstruksi. Kontainer-kontainer ini nantinya akan disusun-susun sedemikian rupa, mirip dengan permainan Lego, hingga berbentuk stadion.

“Itu seperti Lego dan Meccano yang kita semua mainkan sebagai anak-anak. Idenya adalah struktur yang sangat sederhana diperlukan untuk membangun kolom dan balok,” ungkap Javier Iribarren dan Mark Fenwick, dalam wawancara dengan¬†Marca.

“Tentu saja kami harus memikirkan sesuatu yang praktis dan tak mahal. Tak semua orang atau keluarga bisa memiliki bangunan permanen yang hanya dipakai setahun sekali untuk pesta dan kumpul-kumpul.”

“Itu sama di dunia olahraga dan kita melihatnya terjadi di Brasil dan Afrika Selatan. Biaya pembangunan stadion-stadion itu luar biasa tinggi sehingga menyebabkan friksi sosial yang signifikan,” sambung mereka.

Iribarren dan Fenwick mengungkapkan bahwa stadion rancangan mereka murah dan ramah lingkungan, serta bisa dijual dan dipindahkan ke tempat lain dengan mudah. Butuh sekitar delapan bulan untuk membongkar strukturnya dan setahun setengah untuk membangun kembali.

Stadion ini juga awet. Iribarren dan Fenwick memperkirakan bisa bertahan hingga lima atau enam Piala Dunia, atau sekitar 20-24 tahun. Jika ingin desainnya berubah, tinggal menambahkan potongan berbeda, persis seperti bermain-main dengan Lego.

Menjadi menarik karena negara kaya raya seperti Qatar memilih menggunakan konsep ini. Di Indonesia, stadion dengan konsep seperti ini mungkin bisa laris nantinya.

Salah satunya karena di Indonesia banyak klub sepakbola yang kerap berpindah-pindah kota. Kalau mau pindah markas, tinggal bongkar stadionnya dan pasang di tempat yang baru. Asyik bukan, punya stadion sendiri dan bisa dibawa-bawa.***Detikcom

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.