Batam 189 Tahun, Masyarakat Harus Siap Menyambut Menuju Kota Metropolitan Hingga Megapolitan

0
105
Wali Kota Batam H Muhammad Rudi dan Waki walikora Amsakar ACHMAD foto bersama SHAU usai penijaun jalan Fisabillah (Depan Edukits) beberapa waktu lalu.

Sektor Pariwisata Potensial Peningkatan Pendapatan Asli Daerah

Beritanusantaranews.com, Batam – Kota Batam 18 Desember 2018 ini, diperingati di usianya ke- 189 tahun. Barangkali masyarakat awam bertanya, usia 189 tahun ini dari mana hitungannya, mengingat pengelolaan pulau Batam pertama sekali hingga berkembang pesat saat ini adalah Badan yang dibentuk pemerintah pusat yaitu dahulu dikenal dengan Daerah Pengembangan Industri Pulau Batam lebih popular dengan sebutan Badan Otorita Batam yang dibentuk melalui Keppres nomor 74 tahun 1971. Kemudian disempurnakan dengan Keppres nomor 41 tahun 1973. Bahkan jika mengingat pembentukan Kota Administratif Batam, baru terjadi tahun 1983 dan menjadi Kota  Otonom dari perubahan atau peningkatan status Kota Administratif menjadi Kota Batam seiring dengan tuntutan reformasi tahun 1998 dan terlaksana pada tahun 1999 lalu. Namun yang perlu dicatat adalah, usia satu daerah atau Kota, ternyata bukan diukur dari pembentukan secara formal satusnya oleh instansi pemerintah. Tetapi faktor historis atau sejarah, turut menjadi pertimbangan menentukan suatu usia Kota atau daerah.

Sekilas jika melirik ke belakang sejarah kota Batam atau pulau Batam yang dikutip dari berbagai sumber, pulau Batam dahulu bernama pulau Batang, pertama kalinya dihuni suku laut atau lazim disebut orang selat ber-etnis Melayu sekitar abad ke 3 atau tahun 231M. Hanya saja, tak jelas diketahui prosesnya, kenapa pulau Batang berubah menjadi pulau Batam. Namun perlu dicatatat, sejarah pulau Batam disebut-sebut sampai saat ini masih tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda. Ada juga sumber menyebut, nama Batam saat ini hanya ditemukan di Traktat London tahun 1824. Mengenai kapan resminya pulau Batam dihuni, ada memang berbagai sumber yang ber-aneka ragam. Pulau Batam yang juga disebut pulau Ujung karena berada di ujung negeri Temasek (Singapura) disebut dihuni sejak tahun 231. Ada juga sumber lainnya menyebut, pulau Batam dihuni diakhir tahun 1300-an. Kala itu sebut sumber menjelaskan, pulau Batam yang dipimpin Laksamana Hang Nadim saat memerangi penjajah berkedudukan di Bentang atau pulau Bintan. Kepemimpinan selanjutnya oleh Sultan Johor hingga pertengahan abad ke- 18 dimana Kerajaan Malaka waktu itu dalam masa kejayaan, hingga terbentuklah kerajaan Riau Lingga yang dipimpin oleh Yang Dipertuan Muda Riau. Kemudian dari berbagai silsilah keluarga kerajaan Melayu ini disebut-sebutlah nama Raja Isa.

Raja Isa sendiri adalah Putra dari Raja Ali dengan Permaisurinya yang bernama Raja Buruk binti Raja Abdulsamad. Raja Ali sendiri adalah cucu dari Yang Dipertuan Muda Riau V binti Daeng Kamboja Yang Dipertuan Muda Riau III. Dari silsilah keluarga kerajaan tersebut, jelaslah bahwa Raja Isa masih keturunan Yang Dipertuan Muda Riau. Pada zamannya, Raja Isa adalah tokoh penting dalam keluarga kerajaan Riau. Masih menurut sumber tulisan itu, Raja Isa lah yang kemudian membuka sebuah perkampungan baru di Batam yang kemudian diberi nama ‘Nongsa’.

Terlepas dari sejarah yang dikutip dari berbagai sumber diatas, yang pasti saat ini Kota Batam sudah terbilang cukup pesat pembangunannya. Minimal untuk ukuran sejumlah daerah di Sumatera dan luar pulau Jawa, jika dibandingkan dengan sejak penetapannya menjadi daerah Otonom tahun 1999. Seperti diketahui, pulau Batam yang pada awalnya merupakan sebuah Kecamatan yang berpusat di Belakang Padang dan merupakan bagian dari Kabupaten Kepulauan Riau dengan Ibukotanya Tanjungpinang. Kemudian tahun 1984 menjadi Kota Administratif dengan Wali Kota pertama adalah Ir Usman Draman. Kota Administratif yang disandang Batam bertahan hinggan tahun 1999. Kemudian meningkat menjadi kota Otonom dengan Plt Wali Kota Nazief Soesila Dharma.

Dari peningkatan status menjadi daerah Otonom Kota Batam inilah mulai beranjak pembangunan pesat pualu Batam. Kendati harus diakui, Badan Otorita Batam telah meletakkan fundasi pembangunan sejumlah infrasturuktur vital seperti Bandara Hang Nadim dan pembangunan 6 Jembatan fenomenal Trans Barelang. Dari infrasruktur yang sudah dibangun Badan Otorita Batam yang kemudian berganti menjadi Badan Pengusahaan Batam.

Pemerintah Kota (Pemko) Batam semakin meningkatkan pembangunan infrastruktur lainnya, seiring dengan kewenangannya yang lebih luas. Pembangunan berkelanjutan kota Batam, memang tidak mudah dan cenderung stagnan akibat krisis global yang dampaknya dirasakan. Sebagai Contoh, krisis moneter Juli 1997 lalu, berlanjut tahun 1998 membuat pembangunan tersendat. Kawasan industri Batamanindo sejak tahun 1998 berangsur lesuh akibat banyaknya pabrik yang tutup yang mengakibatkan karyawan terpaksa terkena PHK. Tak hanya kawasan industri Batamindo, industri galangan kapal, di kawasan Tanjung Uncang dan Sekupang banyak yang tutup. Tragisnya, seiring dengan reformasi, justru Batam semakin dibanjiri urbanisasi dari segala penjuru tanah air ditengah semakin merosotnya kegiatan industri.

Kendati demikian, Batam masih bisa menggeliat dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia, dimana perekonomian banyak yang terpuruk. Bertahannya Batam di tengah perkonomian yang lesuh di seluruh Indonesia, memang tak terlepas dari fondasi perkonomian yang telah lama terbangun oleh Badan Otorita Batam ditambah semangat Otonomi daerah yang memungkinkan Pemerintah Kota Batam semakin dapat berbuat kebijakan yang lebih baik untuk kesejahteraan masyarakatnya.

Jika melihat perjalanan Otonomi daerah yang sudah dijalankan kota Batam, selepas Plt Walikota Nazief Soesila Dharma, maka pemilihan Wali Kota pertama kalinya secara resmi dilaksanakan tahun 2000 lalu oleh DPRD.  Drs H Nyat Kadir yang memenangi pemilihan bersama Asman Abnur SE waktu itu. Selama lima tahun membenahinya cukup baik dan meletakkan fondasi pemerintahan otonom untuk dilanjutkan penggantinya. Almarhum Drs Manan Sasmita yang sempat sebagai Plt Walikota untuk mengisi kekosongan jabatan, juga dinilai cukup berhasil meneruskan apa yang diperbuat pendahulunya. Selanjutnya di era pemerintahan Wali Kota Drs Ahmad Dahlam-Ir Ria Saptarika, pembangunan infrastruktur perkotaan semakin ditingkatkan hingga kemudian periode kedua kepemimpinan Ahmad Dahlan berduet dengan wakilnya HM Rudi SE, pembangunan infrastruktur tetap dilanjutkan.

Selepas kepemimpinan Ahmad Dahlan yang memimpin kota Batam dua periode berakhir 1 Maret tahun 2016 lalu, maka tongkat estafet kepemimpinan HM Rudi SE bersama Amsakar Achmad saat ini, pembangunan infrastruktur semakin meningkat. Duet Wali Kota HM Rudi SE MM bersama Wakilnya Amsakar Achmad banyak kalangan menilai, sebagai pemimpin yang saling melengkapi. Pasangan Walikota dan Wakil walikota HM Rudi-Amsakar Achmad yang disebut saling melengkapi, dengan melihat latar belakang duet tersebut. Wali Kota HM Rudi SE MM  yang sudah kenyang di beberapa jabatan, mulai dari mantan anggota  Polri, pengusaha sukses, anggota DPRD hingga Wakil Walikota Batam saat mendampingi Wali Kota Drs Ahmad Dahlan, merupakan modal besar untuk memajukan kota Batam lebih baik.

Demikian juga Wakil Walikota Drs Amsakar Achmad, merupakan birokrat murni yang sudah kenyang (Katam Istilah Orang Melayu) di berbagai jabatan Pemerintah Kota Batam. Misalnya pernah sebagai Kabag pembangunan hingga Kepala dinas perdagangan hingga menjadi wakil walikota.

Di era pemerintahan Wali Kota HM Rudi dan Wakil walikota Amsakar Achmad saat ini, telah banyak melakukan terobosan pembangunan infrastruktur, seperti pelebaran jalan sampai pembenahan drainase. Pembangunan peningkatan infrastruktur kota yang semakin gencar dan terarah ini, kendati APBD Kota Batam defisit, duet Walikota dan Wakil walikota ini mensiasatinya dengan pengurangan belanja yang kurang efisien untuk keberlangsungannya. Hasilnya, dapat dilihat saat ini, hampir seluruh ruas jalan di kota Batam, utamanya di kawasan Nagoya dan Batam Centre, lebarnya sangat memadai. Tak hanya di pusat kota, tetapi juga sampai seluruh kawasan kota Batam, seperti Bengkong, kawasan Sagulung dan Batuaji, seperti pelebaran jalan Kapling disambut positif masyarakat disana.

Pembangunan infrastruktur perkotaan ini di era duet HM Rudi-Amsakar Achmad tentu punya tujuan dan target. Lengkapnya infrasturktur daerah atau Kota, dapat dipastikan akan mengundang lebih banyak wisatawan, baik wisatawan domestic maupun mancanegara. Apalagi, kota Batam letak geografisnya yang sangat berdekatan dengan Negara tetangga, utamanya Singapura, Malaysia dan Thailand, maka targetnya akan bisa menggaet wisatawan Negara-negara tetangga tersebut. Bahkan lebih utama lagi, bisa  menggaet limpahan wisatawan mancanegara ke Negara itu, untuk berkunjung ke Batam.

Tak dipungkiri, Industri manufacturing menang diakui saat ini mengalami kelesuan, kendati ada sinyal investor asing sudah mulai masuk jika menyimak informasi dari Badan Pengusahaan Batam. Namun pembangunan infrastruktur yang gencar dilaksanakan Pemerintah Kota Batam sejak tahun 2017 lalu hingga saat ini, jika nantinya sudah rampung, dipastikan akan memunculkan pelaku-pelaku industri pariwisata yang baru. Sektor pariwisata, untuk menambah pendapatan asli daerah, cukup potensial bisa digapai bila sarana dan prasarana terus dibenahi. Termasuk pembangunan infrastruktur, pembuatan beberapa taman kota hingga sarana taman margasatwa (kebun binatang) untuk menarik lebih banyak wisatawan.

Sektor pariwisata sejalan dengan upaya pemerintah pusat menggalakkan industri kreatif di setiap daerah, memang membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk membangun sarana dan prasarananya. Tetapi harus diakui, devisa atau pendapatan dari sektor pariwisata dan indusri kreatif  untuk memajukan suatu daerah, banyak daerah yang sudah berhasil. Misalnya saja, Bali dan NTB (Lombok sebelum gempa-red), sangat tinggi pendapatannya dari sektor pariwisata.

Batam tentu lebih potensial bisa meningkatkan pendapatan dari sektor pariwisata, jika melihat letak geografisnya yang strategis yakni berdekatan dengan Negara yang sudah terlebih dahulu maju pariwisatanya,seperti Singapura, Malysia dan Thailand.

Melihat pembangunan infrasturktur kota yang dibangun cukup signifikan oleh Pemko Batam, banyak kalangan menilai, sangat mungkin bisa menuju Kota Metropolitan hingga Megapolitan. Hal ini memungkinkan, apalagi jika sampai melakukan study ke Negara tetangga Singapura dan Malaysia. Tanda ke arah kota Metropolitan memang semakin terpampang di depan mata. Maka peran masyarakat kota Batam, tentu harus medukung langkah pemerintah kota Batam. Masyarakat Batam, harus siap untuk menyambutnya dengan berbagai peran. Sekecil apapun peran masyarakat, sudah sangat membantu pemerintah untuk mencapai kota Batam menuju kota Modern, terutama menuju kota Metropolitan yang siap menampung wisatawan domestik maupun wistawatan mancanegara.

Peran masyarakat bisa diwujudkan di berbagai bidang. Misalnya, dengan kesadaran menjaga kebersihan lingkungan. Tidak membuang sampah secara sembarangan. Tertib lalu lintas sebagai cermin suatu bangsa, hingga kesadaran membayar pajak atau retribusi daerah seperti Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Bagaimana tanggapan masyarakat seputar pembangunan infrastruktur yang gencar dilakukan saat ini kendati di tengah defisit anggaran Pemko Batam beberapa tahun ini? Pada umumnya disambut positif dan mengapresiasi kinerja duet Walikota-Wakil walikota  HM Rudi dan Amsakar Achmad. Pelebaran jalan di beberapa kawasan, kendati masih ada dalam pengerjaan, namun dinilai sudah dapat mengurangi kemacetan yang kerap terjadi selama ini.

Abdul Muis, Tokoh Masyarakat Banjar di Batam.

Tokoh masyarakat Banjar di Batam Abdul Muis yang sudah bermukim di kota Batam 30 tahun lalu mengatakan, pembangunan infrastruktur yang dilakukan Pemko Batam saat ini, harus didukung masyarakat, Senin (3/12/2018) dibilangan Batam Center. Itu artinya kata Abdul Muis asal Tembilahan Indragiri Hilir Riau itu, bahwa Pemerintah Kota Batam tidak semata-mata bersandar ke sektor Industri ditengah merosotnya ekonomi global. Dana besar, tambah Abdul Muis memang sangat dibutuhkan untuk pembangunan sarana dan prasarana pariwisata termasuk perbaikan dan penyediaan infrastruktur yang memadai.

Lain halnya dengan Hamid yang mengaku berasal dari Cirebon Jawa Barat. Hamid yang mengaku sudah 15 tahun berada di Batam, sebenarnya menyambut positif pembangunan infrastruktur yang dilakukan Pemko Batam saat ini. Hanya saja, banyak pedagang kaki lima yang akhirnya tidak bisa berjualan karena terkena pelebaran jalan. Ia berharap, pedagang kaki lima bisa ditempatkan di lokasi yang memadai yang bisa dijangkau masyarakat. Namun pada intinya, senada dengan elemen masyarakat lainnya, Hamid mengakui, besarnya potensi Batam di bidang pariwisata untuk mendongkrak lebih tinggi pendapatan daerah. Keduanya tokoh masyarakat dan elemen masyarakat lainnya, mengucapkan Dirgahayu Hari Jadi Batam ke 189, semoga Batam semakin dan semakin berjaya dengan payung budaya Melayu. (arifin marbun)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.